Tips Menemukan Saham Value Stock dengan Mudah

Halo rekan rekan investor apa kabarnya? Sudah pernah dong mendengar saham value stock?

Value stock adalah saham yang memiliki fundamental yang baik dan memiliki harga pasar (market price) yang lebih kecil dari pada nilai intrinsik perusahaannya (Undervalue: Market Price < Intrinsic Value). Sederhananya adalah “saham perusahaan bagus dengan harga pasar yang sedang terdiskon”!

Ibaratnya kita membeli rumah seharga 1 milyar, padahal Nilai Jual Obyek Pajak (NJOP) rumah tersebut tertera 5 milyar dan lokasi rumah tersebut cukup strategis serta tidak banjir.

Jika bukan di pasar modal kita akan sulit menemukan ada orang mau menjual asetnya jauh dibawah nilai wajar aset tersebut. Akan tetapi di pasar modal sering kali ditemukan, ada saham yang bisa diperdagangkan dengan harga yang jauh dibawah nilai wajarnya (intrinsic value). Menarik tidak?

Pada kesempatan ini penulis akan memberikan tips bagaimana menemukan saham Value Stock dengan cara yang mudah:

1. Carilah perusahaan yang Undervalue terlebih dahulu.

Penulis lebih menyarankan mencari saham dengan kriteria undervalue terlebih dahulu, ada banyak cara perhitungan untuk menilai valuasi sebuah perusahaan. Kalau penulis lebih suka pakai yang simpel saja, tidak selalu yang rumit rumit itu lebih baik dan lebih tepat, karena pada prinsipnya melakukan penilaian valuasi adalah seni, tidak ada kebenaran yang absolut.

Yang paling mudah dilakukan adalah dengan melihat 2 rasio valuasi yaitu Price to Earning Ratio (PER) dana atau Price to Book Value (PBV).

Kapan pakai PER? Kapan pakai PBV? Atau pakai keduanya?

PER adalah rasio antara Harga Pasar per lembar saham saat ini (Current Market Price) dibagi dengan Besaran Laba per lembar saham (Earning per Share). Rasio ini cukup relevan dipakai kepada perusahaan yang karakter bisnisnya adalah menghasilkan pertumbuhan laba yang lebih stabil, misalnya saham perusahaan consumer goods, perbankan.

Rules of Thumb yang dapat dipakai untuk menentukan sebuah saham itu murah/undervalue adalah PER < 10x, semakin kecil rasio PER bisa dikatakan semakin murah valuasi sebuah saham.

PBV adalah Harga Pasar per lembar saham saat ini (Current Market Price) dibagi dengan Nilai buku/ekuitas per lembar saham (Book Value). Rasio ini hampir boleh dibilang relevan untuk semua jenis industri yang ada. Dan sangat relevan rasio ini dipakai untuk melakukan penilaian valuasi atas bisnis perusahaan komoditi, dan industri yang bersifat cyclical seperti properti, dll.

Rules of Thumb yang dapat dipakai untuk menentukan sebuah saham itu murah/undervalue adalah PBV < 1x, semakin kecil rasio PBV bisa dikatakan semakin murah valuasi sebuah saham.

Kedua rasio ini dapat juga dilihat pada aplikasi trading (RTI, HOTS, BIONS, Stockbit, dll), berikut saya lampirkan sebagai contoh saja menggunakan aplikasi stockbit (Source: Stockbit).

Bisa terlihat juga menggunakan aplikasi ini adalah PBV Band. Cara membacanya adalah jika PBV dibawah nilai rata ratanya (Mean), yaitu:  -1 Standar Deviasi, atau -2 Standar Deviasi itu mencerminkan bahwa kondisi PBV saat ini lebih rendah dari PBV nya selama periode tertentu (3 tahun/5 tahun/10 tahun).

2. Teliti dan pelajari bisnis perusahaan secara mendalam

Tentunya hal ini bagian terpenting, setelah kita menemukan saham terdiskon/murah/undervalue, adalah memastikan bisnis perusahaan adalah masih memiliki prospek dalam jangka panjang, atau jika dalam kondisi bisnis yang kurang baik saat ini, kita harus benar benar meyakini dan memastikan bahwa kondisi tersebut bersifat sementara (misal: terdampak pandemi/siklus usaha yang turun), dan bisnis perusahaan akan mengalami perbaikan/turnaround di masa yang akan datang.

3. Analisa kinerja dan fundamental perusahaan. Hal apa saja yang terpenting harus diperhatikan Investor, antara lain:

i) Pertumbuhan revenue dalam 5-7 tahun masih bisa bertumbuh positif (Compounding Annual Growth Rate), atau bisa dipastikan tidak terjadi penurunan bisnis perusahaan yang disebabkan dari internal perusahaannya.

ii) Arus kas operasi yang positif, Arus kas investasi yang negatif, dan Arus kas pendanaan yang negatif. Jangan sampai kita membeli perusahaan yang profitable akan tetapi tidak bisa menghasilan arus kas operasi yang positif, artinya hanya untung diatas kertas saja.

iii) Membukukan Net Profit, walaupun Net Profit bukan segalanya yang mencerminkan kinerja perusahaan. Perlu diperhatikan jika sebuah perusahaan membukukan rugi bersih (Net Loss) apakah ini bersifat sementara dari bisnisnya? Lalu apa penyebab Net Loss tersebut? Apakah berasal dari kinerja bisnis yang menurun? Perubahan penerapan standar akuntansi? Atau adanya biaya non cash yang berkontribusi signifikan menggerus laba bersihnya? (contoh biaya depresiasi, rugi selisih kurs, dll).

Jika rugi bersih itu bersifat sementara dari siklus bisnisnya, dan jika kerugian disebabkan dari faktor biaya non cash, maka boleh dibilang perusahaan tersebut masih cukup layak untuk diinvestasikan dalam jangka panjang.

iv) Perusahaan memiliki rasio likuiditas yang baik, yaitu Current Ratio >= 1.3x dan Cash Ratio >= 0.3x.

v) Memiliki resiko hutang berbunga (Interest Bearing Debt) kurang dari 100%, serta memiliki kemampuan membayar bunga hutang yang baik dengan Interest Coverage Ratio >= 1,5x

vi) Perusahaan dikelola dan dijalankan oleh management (Komisaris & Direksi) yang bersih, transparan, dan tidak pernah tersandung kasus korupsi, dan kode etik (Good Corporate Governance).

4. Memilih saham yang Margin of Safety nya besar dan Market Cap nya tidak terlalu kecil.

Setelah kita menemukan beberapa saham value stock hasil analisa kita, selanjutnya kita harus memilih saham pilihan kita yang terbaik dengan memperhatikan:

i) Margin of Safety (MOS) yang masih cukup besar >= 30%, dimana rumus MOS adalah {(Intrinsic Value – Market Price)/Intrinsic Value}.

Ini sangat penting, karena MOS inilah yang menjadi faktor mitigasi resiko kita, semakin besar MOS yang dimiliki, bisa dikatakan semakin resiko investasi kita lebih kecil dari pada saham yang MOS nya kecil.

ii) Pilih saham dengan Market Cap yang tidak terlalu kecil, Penulis menyarankan untuk memilih Market Cap perusahaan minimal 800 milyar ketas dan kepemilikan saham publiknya minimal diatas 15%, karena jika kepemilikan saham publik terlalu kecil akan sulit harga saham tersebut mendapatkan apresiasi dari market, begitu juga jika saham terlalu kecil market capnya.

5. Sabar menunggu harga saham mendekati/tercapai nilai intrinsiknya.

Setelah membeli saham value stock yang harus kita lakukan adalah sabar menunggu, kita fokus saja pada usaha dan aktivitas keseharian kita, biarkan investasi kita “bekerja” seiring dengan bisnis perusahaan yang kita yakini akan terus bertumbuh/mengalami turnaround.

“The big money is not in the buying and sellingbut in the waiting”. Charlie Munger

Selamat berpetualang ya menemukan saham value stock terbaik kita, Happy Value Investing!



error: Content is protected !!