POWR, Calon Saham Multi Bagger yang Undervalued?

Sudah lama sekali saya tidak memberikan pembahasan tentang emiten, kali ini saya ingin memberikan prospek dan analisa fundamental terhadap satu saham terkait kinerja keuangan, prospek bisnis, dan industrinya yang cukup bersingungan dengan energi terbarukan, yaitu POWR.

POWR adalah kode emiten dari PT Cikarang Listrindo, Tbk. Ada yang pernah dengar? atau sebelumnya sudah pernah tau? Yuk kita bahas ya secara analisa fundamental saham ini.

Seperti biasa, sebelum kita membeli saham sudah selayaknya kita tau terlebih dahulu perusahaannya secara details dan mendalam, baik dari bidang usahanya, industrinya, kinerja perusahaannya, prospeknya, GCG, dan Resikonya dari perusahaan, agar kita tidak beli kucing dalam karung, hanya beli sekedar 4 huruf, yang terkadang hanya beli berdasarkan herding behavior di market.

POWR adalah perusahaan penyedia listrik swasta yang beroperasi paling lama di Indonesia dengan memiliki Ijin Usaha Kelistrikan Umum (IUKU) untuk memasok listrik ke pelanggan atau Kawasan Industri dalam area yang ditetapkan, dan melayani 5 Kawasan Industri terbesar dan berkembang di Indonesia, yaitu Kawasan Industri Jababeka Industrial Estate, MM2100, East Jakarta Industrial Park (EJIP), Hyundai Inti Development, Lippo Cikarang.

Saat ini POWR menghasilkan dan mendistribusikan 1.144 Mega Watt (864MW PLTGU & PLTG, dan 280MW PLTU). Pelanggan utama perusahaan adalah perusahaan perusahan yang berada di 5 kawasan industri mencapai 2 483 pelanggan per September 2020 (Pelanggan berasal dari beragam industri otomotif, elektronik plastik, makanan, barang konsumen, tekstil, industri berat dan data center), serta PT Perusahaan Listrik Negara.

Jadi bisa dibayangkan dong, jika POWR ini emiten yang erat kaitannya dengan pemakaian listrik di kawasan industri, Ini Kata kunci yang harus dipahami, jika ingin berinvestasi di POWR.

Kita akan coba bahas POWR ini dari sisi Financial Performance (Profitability, Solvability, Liquidity, dan Valuation), Good Corporate Governance, Prospect dan terakhir yang tidak kalah pentingnya yaitu Risk.

I. Financial Performance

1. Profitability

Terlihat dalam 3 tahun terakhir pendapatan in IDR secara perusahaan masih dapat bertumbuh (walaupun jika kita telaah ke laporan keuangan thn 2020, pendapatan perusahaan secara USD menurun, kenaikan lebih disebabkan karena ada nilai tukar kurs USD 2020 yang lebih besar dari tahun 2019), akan tetapi yang menarik pada tahun 2021, berdasarkan LK Q1 2021, pendapatan perusahaan diperkirakan akan bisa bertumbuh 14,5%, akan tetapi yang menarik justru market cap perusahaan turun sd 36% (Catatan Penting 1)

Gross Profit, Operating Profit dan Net Profit perusahaan boleh dibilang relatif besar sd double digit, artinya perusahaan mempunyai economic moat menentukan harga jualnya dengan lebih leluasa dan relatif tanpa kompetitor sebenarnya (Catatan Penting 2)

Bukan hanya Margin Profit yang relatif besar, Return on Equity perusahaan juga relatif baik, bisa mencatatakan double digit dengan konsisten, artinya perusahaan bisa menghasilkan profit dengan struktur modal yang sehat dan produktif (Catatan Penting 3).

2. Solvability

Cash, Assets, dan Equity perusahaan masih tercatat meningkat dalam 3 tahun terakhir, sedangkan Liabilities mengalami peningkatan yang tidak besar dari Equity nya. Interest Coverage Ratio 92x yang artinya laba operasional perusahaan bisa membayar 92x dari bunga hutang perusahaan, selain itu Debt Equity perusahaan juga terlihat mengalami penurunan dalam 3 tahun terakhir. Artinya Perusahaan memiliki kemampuan membayar hutang yang cukup baik, (Catatan Penting 4).

3. Liquidity

Secara likuiditas, sangat jelas terlihat perusahaan selalu membukukan Operating Cash Flow yang Positif, artinya perusahaan bukan sekedar hanya membukukan laba, tapi benar benar uangnya ada (Catatan Penting 5) Selain itu, Investing Cash Flow Negatif berarti perusahaan tetap melakukan aktivitas investasinya untuk mengembangkan bisnis perusahaan, dan yang paling menarik teman teman bisa perhatikan Financing Cash Flow yang Negatif, artinya perusahaan konsisten dan rutin mengurangi dan membayarkan hutangnya*.

*Rating kredit S&P Moody’s BB outlook Stabil) Ba 2 outlook Positif Rating surat utang Cikarang Listrindo menempati peringkat top 10 untuk kategori seluruh perusahaan swasta non bank Indonesia yang dinilai oleh S&P dan Moody’s 3

Liquidity Ratio (LR) dan Cash Ratio (CR) dalam 3 tahun terakhir sangat baik, dimana LR konsisten selalu diatas 6x dan CR konsisten diatas 0,3x. Dapat dikatakan perusahaan memiliki likuiditas yang sangat sangat kuat dan jauh dari resiko gagal bayar (Catatan Penting 6)

4. Valuation

Selain Profitability, Solvability dan Liquidity yang baik, seorang investor juga senantiasa harus benar benar bisa menghitung valuasi perusahaan dengan baik, karena sekalipun perusahaan dengan kondisi keuangan yang baik akan tetapi jika kita membelinya di overvalued (Harga Saham > Nilai Saham) maka downside risk terhadap harga saham menjadi resiko terbesarnya.

Penting bagi kita semua bisa membeli saham saham dalam kondisi undervalued (Nilai Saham > Harga Saham), jadi memang ketika kita sudah menemukan saham yang bagus akan tetapi harganya overvalued, maka kita harus bersabar menunggu dan masukkan saja dulu saham tersebut ke watchlist kita (Catatan Penting 7)

Valuasi POWR saat ini yang diperdagangkan dengan 615 (Aug 25, 2021) terbilang sangat Undervalued, karena jika penulis mencoba menghitung Nilai Wajar POWR adalah 1200, dengan margin of safety saat ini adalah sebesar 47%.

Dapat terlihat secara mudah, Price Earning Ratio dibawah 10x, Price to Earning Growth Ratio dibawah 1x, Price to Book Value Ratio 1x, ini semakin mengkonfirmasi bahwa POWR diperdagangkan dengan undervalued untuk saat ini (Catatan Penting 8)

II. Good Corporate Governance (GCG)

Dari hasil riset penulis, tidak pernah POWR mencatatkan permasalahan yang merugikan pemegang saham minoritas, begitu juga jika penulis melakukan pendalaman rekam jejak dari mesin pencarian google terhadap kasus kasus POWR dan Management perusahaan tidak ditemukan, dapat diyakini sampai saat ini POWR memiliki GCG yang sangat baik (Catatan Penting 9).

Pada tahun 2019, Penilaian ASEAN Corporate Governance termasuk dalam 100 emiten yang telah dinilai penerapannya berdasarkan ACGS dengan perolehan nilai mencapai 70,35% (Cut off pada pertengahan tahun 2019). Penilaian dilakukan oleh RSM Indonesia atas permintaan OJK.

Penilaian Annual Report Award (ARA) tahun 2019 memperoleh capaian nilai 70,43 atas Penilaian kualitas Laporan Tahunan Tahun 2018, meningkat dari hasil penilaian Laporan Tahunan Tahun 2016 dengan nilai 48,54 untuk kategori Private Non Keuangan Listed.

Pada tahun 2021, perusahaan terpilih masuk kedalam Index SRI KEHATI, yang merupakan pembuktian perusahaan memiliki komitmen terhadap lingkungan hidup, sosial, dan tata kelola perusahaan yang baik

III. Prospect

Ini bagian paling menarik untuk kita bisa melihat POWR lebih jauh kedepan, jika tadi kita sudah banyak membahas POWR dari sisi keuangan dan GCG, kita coba kupas ya kira kira bagaimana sih prospek perusahaan kedepannya, apakah prospeknya stagnan, suram atau bahkan memiliki prospek pertumbuhan dimasa depan yang menjanjikan.

mengapa prospek perusahaan sangat penting, karena kinerja perusahaan sifatnya adalah cermin, historis, kinerja masa lalu yang sudah dicapai perusahaan, tapi kalau prospek ini bersifat leading indicator bagi perusahaan apakah perusahaan bisa bertahan, atau bahkan bertumbuh dengan lebih baik (Catatan Penting 10).

1. Memiliki Portofolio yang terdiversifikasi dengan Energi Terbarukan (Solar Panel dan Biomassa).

Energi bersih yang dihasilkan dari energi biomassa berupa palm kernel shell (PKS) yang diaplikasikan pada PLTU Perusahaan sebesar 2,3 Juta kWh. Kapasitas pembangkit solar panel Perusahaan sebesar 402,5 kWp (Source: Pubex POWR 2020)

2. Pertumbuhan Kapasitas Terpasang & Energized Capacity yang baik (CAGR 1993-2019: 12,5%). (Source: AR POWR 2020)

3. Potensi pertumbuhan bisnis manufaktur dan industrial dengan terbentuknya Indonesia Investment Authority (INA). (Source: http://ina.go.id)

4. Potensi Peningkatan DDI (Domestic Direct Investment) dan FDI (Foreign Direct Investment) akan mendorong permintaan untuk lahan industri dapat menjadi leading indicator pulihnya dan bertumbuhnya permintaan akan lahan industrial, dan tentunya secara langsung akan mempengaruhi permintaan kelistrikan di kawasan industri yang menjadi pengelolaan perusahaan. Berikut data updates terlampir yang didapatkan dari Badan Koordinasi Penanaman Modal RI. (Source: http://bkpm.go.id)

“There was a slowdown in the DDI investment realization in the first quarter of 2021 when compared to the same period in 2020 by 4.2%, namely from the investment realization value of IDR 112.7 trillion to IDR 108.0 trillion. FDI investment realization in the first quarter of 2021 increased by 14.0% compared to the same period in 2020 from IDR 98.0 trillion to IDR 111.7 trillion.

The highlights of the investment realization of the DDI and FDI in Q1 2021 are as follows:
a. Domestic Direct Investment Realization
DDI realization based on top five leading sectors were Housing, Industrial Estate, and Office Building (IDR 21.6 trillion); Transportation, Warehouse, and Telecommunication (IDR 13.3 trillion); Electricity, Gas, and Water Supply (IDR 11.5 trillion); Food Crops, Plantation, and Livestock (IDR 9.9 trillion); and Construction (IDR 9.6 trillion). If all of those industrial sectors are combined, it shows that the industrial sectors contributed as much as IDR 23.0 trillion or 21.3% of the total DDI.

DDI realization based on top five leading locations were: West Java (IDR 16.0 trillion); East Java (IDR 10.0 trillion); Special Territory of Jakarta (IDR 8.7 trillion); Central Java (IDR 8.4 trillion); and Banten (IDR 7.0 trillion).

b. Foreign Direct Investment Realization
FDI realization based on top five leading sectors are: Metal, Metal-Based Goods, Non-Machinery and Equipment Industry (US$ 1.7 billion); Food Industry (US$ 1.0 billion); Transportation, Warehouse and Telecommunication (US$ 0.8 billion); Electricity, Gas, dan Water Supply (US$ 0.6 billion); and Vehicle and other transportation Industry (US$ 0.6 billion). If all of those industrial sectors are combined, it shows that the industrial sectors contributed as much as US$ 4.5 billion or equivalent to 58.5% of the FDI total realization.

FDI realization based on top five leading locations were: West Java (US$ 1.4 billion); Special Territory of Jakarta (US$ 1.0 billion); Central Sulawesi (US$ 0.6 billion); Riau (US$ 0.6 billion); and Southeast Sulawesi (US$ 0.5 billion).
FDI realization based on top five of country of origin were: Singapore (US$ 2.6 billion); China (US$ 1.0 billion); South Korea (US$ 0.9 billion); Hong Kong (US$ 0.8 billion) and Switzerland (US$ 0.5 billion).

c. Distribution of Project Locations
In the first quarter of 2021, investment realization in Java Island equal to IDR 105.3 trillion and investment realization outside Java Island equal to IDR 114.4 trillion. When compared to the same period in 2020, there was a retardment in Java Island by 2.7% and an increase in investment of outside Java Island by 11.7%.

d. Indonesian Labor Absorption
The realization of Indonesian labor absorption in the first quarter of 2021 reached 311,793 Indonesian labors which consists of 165,630 Indonesian labors (53.1%) from DDI projects and 146,163 Indonesian labors (46.9%) from FDI projects.

5. Purchasing Managers Index (PMI) Manufacture yang terus membaik disertai dengan pemulihan ekonomi makro di Indonesia

PMI merupakan leading indicator bagi kegiatan perekonomian suatu negara yang didapatkan berdasarkan hasil survey para manager dari berbagai sektor bisnis manufaktur yang ada.

Sejak Nov 2020, PMI Manufaktur Indonesia terus mengalami kenaikan (Dikatakan Baik, jika index diatas 50), hal ini menjadi prospek yang baik bagi perkembangan bisnis POWR yang berkaitan erat dengan industri manufaktur. (Source: http://tradingeconomics.com)

IV. Risk

Resiko berinvestasi di POWR sebenarnya sangatlah minim, akan tetapi yang harus mendapatkan perhatian adalah indikator pemulihan atau pertumbuhan ekonomi yang akan berdampak langsung terhadap kenaikan permintaan barang barang, sehingga mendorong industri manufaktur meningkatkan produksinya dan tentunya berdampak baik terhadap konsumsi listrik yang menjadi produk POWR.

Tentunya industri manufaktur saat ini, masih tertekan dengan adanya pandemi covid19 yang mengharuskan terjadi PPKM, dan dengan kata lain berdampak terhadap konsumsi masyarakat Indonesia, jadi jika covid19 bisa ditangani dan program pemulihan ekonomi berjalan dengan baik, maka POWR salah satu emiten yang bisnisnya akan mengalami turnaround story.

Happy Value Investing…

Jakarta, Aug 25 2021

 

Disclaimer On: Setiap keputusan investasi adalah keputusan individu, artikel ini bertujuan mengedukasi cara berpikir, cara analisa dan cara mencari jawaban why kita memilih saham tertentu.



error: Content is protected !!